Jumat, 08 April 2011

Tau Ga Sih 5 jembatan "TER" sedunia

TERTINGGI

     Jembatan tertinggi di dunia sebenarnya berada di pegunungan Himalaya, karena terletak setinggi 5606 m di atas permukaan laut. Jembatan bernama Baily yang jaraknya cuma 30 meter ini, dibangun oleh tentara India pada tahun 1982. Tapi kalau yang dimaksud adalah jembatan tertinggi yang berada tepat di atas laut, maka The Royal Gorge berhasil meraih predikat itu. Dengan tinggi 321 m, jembatan yang dibangun pada tahun 1929 ini membentang di atas sungai Arkansas, Colorado, Amerika Serikat. The Royal Gorge juga meraih predikat sebagai jembatan bersuspensi tertinggi di dunia.

TERPANJANG
 
      Jembatan kembar Pontchartrain adalah yang terpanjang di dunia. Jembatan pertama dibuat pada tahun 1955 dan sepuluh tahun kemudian, dibuat jembatan kedua yang membentang di atas danau Pontchartrain dengan jarak 38.6 km. Pembangunan jembatan yang seperti tak berujung ini, menghabiskan biaya sebesar 84 juta dollar dan membutuhkan sekitar 18.000 batang tonggak peyangga. Awalnya, jembatan ini dibangun untuk menghubungkan kota New Orleans dengan St. Tamany Parish.

TERBESAR

     San Fransisco yang terkenal dengan Golden Gate-nya, justru punya jembatan terbesar di dunia. Jembatan Trans-Bay yang menghubungkan antara kota San Fransisco dengan Oakland ini, pertama kali dibuka pada 12 November 1936. Dengan jarak sepanjang 13.27 km, jembatan yang dibangun oleh Charles C. Purcell ini, tiap harinya mampu menampung minimal 270.000 kendaraan. Trans-Bay pun memiliki terowongan terpanjang di dunia, 546 meter.

TERUMIT

     Jembatan Seto-Ohashi-Kojima yang meng-hubungkan kota Honshu dan Shikoku pada tahun 1988 merupakan jembatan kombinasi terpanjang di dunia. Seto-Ohashi terdiri dari gabungan antara jembatan jalan (untuk mobil) dan jembatan rel kereta api Jepang (Shinkasen). Butuh waktu 10 tahun dan biaya lebih dari 1 triliun Yen untuk menyelesaikan jembatan sepanjang 13.22 km yang memiliki ujung berulir ini. Uniknya, jembatan ini terdiri atas 6 jembatan yang menghubungkan pulau kecil yang terletak di antara dua kota besar itu, yaitu jembatan Shimotsui Seto, jembatan Hitsuishijima, jembatan Iwakurojima, jembatan Yoshima, jembatan Kita Bisan Seto dan jembatan Minami Bisan Seto.

TERALAMI

     Inilah jembatan alam terbesar Mahakarya Sang Pencipta !!! Rainbow Bridge (jembatan pelangi), terletak di daerah cagar alam dan reservasi uku Indian di lembah batu Navajo Mountain, Utah, Amerika Serikat. Tingginya hampir sama dengan Patung Liberty, 88.4 meter. Ia membentang selebar 83.8 meter (kayak sungai) dan berdiri kokoh dengan ketebalan sebesar 12.8 meter.

Minggu, 03 April 2011

Inflasi


Inflasi adalah suatu keadaan perekonomian di mana harga-harga secara umum mengalami kenaikan. Kenaikan harga itu berlangsung dalam jangka panjang. Kenaikan harga yang bersifat sementara seperti kenaikan harga pada masa Lebaran tidak di anggapi sebagai inflasi. Hal ini karena biasanya setelah masa Lebaran, harga-harga akan turun kembali. Inflasi secara umum terjadi karena jumlah uang beredar lebih banyak daripada yang diperlukan. Inflasi merupakan gejala ekonomi yang tidak pernah dapat dihilangkan secara tuntas. Usaha yang dilakukannya biasanya hanya sebatas mengurangi dan mengendalikannya.
Jenis-jenis inflasi dapat dibedakan berdasarkan tingkat keparahan, sumber dan penyebabnya.

1. Jenis Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya
Berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi dapat dibedakan atas inflasi ringan, sedang, berat, dan sangat berat.
  1. Inflasi ringan
    adalah inflasi yang masih belum begitu mengganggu keadaan ekonomi. Inflasi ini masih mudah dikendalikan. Harga-harga naik secara umum, tetapi belum menimbulkan krisis di bidang ekonomi. Inflasi ringan berada di bawah 10% per tahun.
  2. Inflasi sedang
    Inflasi ini belum membahayakan kegiatan ekonomi. Tetapi inflasi ini sudah menurunkan kesejahteraan orang-orang yang berpenghasilan tetap. Inflasi sedang berkisar antara 10% - 30% per tahun.
  3. Inflasi berat
    Inflasi ini sudah mengacaukan kondisi perekonomian. Pada inflasi berat ini, orang cenderung menyimpan barang. Dan umumnya orang enggan untuk menabung, karena bunga tabungan lebih rendah daripada laju inflasi. Inflasi berat berkisar antara 30% - 100% per tahun.
  4. Inflasi sangat berat (hyperinflation)
    Inflasi jenis ini sudah mengacaukan kondisi perekonomian dan susah dikendalikan walaupun dengan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Inflasi sangat berat berada di atas 100% per tahun.

2. Jenis Inflasi Berdasarkan Sumbernya
Berdasarkan sumbernya, inflasi dibedakan atas inflasi yang bersumber dari luar negeri dan inflasi yang bersumber dari dalam negeri.
  1. Inflasi yang bersumber dari luar negeri
    Inflasi ini terjadi karena ada kenaikan harga di luar negeri. Dalam perdagangan bebas, banyak negara yang saling berhubungan dalam perdagangan. Jika suatu negara mengimpor barang dari negara yang mengalami inflasi, maka otomatis kenaikan harga tersebut (inflasi) akan memengaruhi harga-harga dalam negerinya sehingga menimbulkan inflasi.
  2. Inflasi yang bersumber dari dalam negeri
    Inflasi yang bersumber dari dalam negeri dapat terjadi karena percetakan uang baru oleh pemerintah atau penerapan anggaran defisit. Inflasi yang bersumber dari dalam negeri juga dapat terjadi karena kegagalan panen. Kegagalan panen menyebabkan penawaran suatu jenis barang berkurang, sedangkan permintaan tetap, sehingga harga-harga akan naik.

3. Jenis Inflasi Berdasarkan Penyebabnya
Berdasarkan penyebabnya, inflasi dapat dibedakan atas inflasi karena kenaikan permintaan dan inflasi karena kenaikan biaya produksi.
  1. Inflasi karena kenaikan permintaan
    Kenaikan permintaan terkadang tidak dapat dipenuhi produsen. Oleh karena itu, harga-harga sksn cenderung naik. Hal ini sesuai dengan hukum ekonmi “jika permintaan naik sedangkan penawaran tetap, maka harga cenderung naik”.
  2. Inflasi karena kenaikan biaya produksi
    Kenaikan biaya produksi mengakibatkan harga penawaran barang naik, sehingga dapat menimbulkan inflasi.

Cara mengatasi inflasi yaitu dengan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Selain itu juga inflasi dapat di atasi dengan kebijakan lain di luar kebijakan moneter dan fiskal yaitu dengan meningkatkan produksi dan menambah jumlah barang di pasar dan menetapkan harga maksimum untuk beberapa jenis barang.

Jumat, 01 April 2011

Pembangunan daerah


      Negara Republik Indonesia terdiri dari ribuan pulau besar-kecil, yang berbeda-beda dalam hal dan laju pertambahan penduduk, sumber-sumber alam dan prasarana produksi, maupun dalam struktur sosial dan kebudayaannya : “bhineka tunggal ika”. Wawasan dalam mencapai tujuan pembangunan nasional adalah wawasan nusantara, yang berarti bahwa seluruh kepulauan nusantara ini merupakan satu kesatuan politik dan hankamnas, dan juga satu kesatuan ekonomi dan sosial-budaya.
      Oleh karena itu usaha pembangunan sektoral (menurut bidang) perlu dilaksanakan secara selaras dan serasi dengan pembangunan daerah. Proyek-proyek pembangunan tentunya berlokasi di salah satu daerah tertentu di Indonesia. Maka perlu dijaga agar proyek-proyek pembangunan itu menjadi bagian dari pembangunan daerah yang bersangkutan,dan sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan prioritas daerah, tanpa meninggalkan keistimewaan yang dimiliki oleh masing-masing daerah.
Usaha pembangunan daerah meliputi pembangunan Daerah Tingat I, Daerah Tingkat II, pembangunan desa dan pembangunan kota.

Perencanaan Pembangunan Daerah

      Tujuan pembangunan daerah, selain untuk meningkatkan produksi dan pendapatan serta menjaga kestabilan nasional juga untuk meratakan pembangunan dan hasil-hasilnya ke seluruh wilayah nusantara. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya dilaksanakan terutama dengan jalan :
  • Meningkatkan prasarana perhubungan agar dapat memperlancar mobilitas manusia dan barang, memperlancar hubungan antar daerah yang jauh dengan pusat-pusat pembangunan, menghubungkan daerah produksi dengan daerah pemasaran, baik dalam negeri maupun luar negeri.
  • Meningkatkan pendidikan (terutama pendidikan keterampilan) dan kesehatan, agar penduduk lebih mampu memanfaatkan dan melestarikan sumber-sumber kekayaan alam dan lebih mampu menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi setempat.
  • Penyebaran penduduk yang lebih merata melalui program transmirasi dan pembinaan pemukiman yang lebih serasi dengan sumber-sumber alam dan lingkungan hidup.
  • Peningkatan kemampuan aparatur pemerintahan dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan di daerah, serta mendorong prakarsa dan partisipasi rakyat di daerah.

Perencanaan pembangunan di daerah

      Supaya proyek-proyek pembangunan (yang direncanakan oleh pusat dalam rangka program pembangunan sektoral) betul-betul menjadi bagian terpadu dari pembangunan daerah, maka jelaslah bahwa daerah perlu ikut dilibatkan dalam proses perencanaan pembangunan. Karena setiap daerah mempunyai persoalan sendiri-sendiri, dan juga potensinya sendiri-sendiri.
Oleh karena itu selain BAPPENAS di tingkat pusat, sejak Pelita II dibentuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) tingkat I, dan dalam Pelita III dibentuk pula BAPPEDA tingkat II.

Tugas BAPPEDA I dan II pada dasarnya sama, yaitu :
  • Menyusun rencana pembangunan daerah, sebagai pelaksanaan dari prinsip 'perencanaan dari bawah' yang lebih sesuai dengan kekhususan dan kebutuhan daerah;
  • Mengkoordinasikan serta melakukan monitoring seluruh kegiatan pembangunan di daerah, agar perencanaan sektoral lebih diintegrasikan dengan pembangunan daerah;
  • Mempertimbangkan dan mengamati akibat sampingan pembangunan terhadap kelestarian alam dan lingkungan (seperti erosi, pendangkalan sungai dan muara, pencemaran lingkungan hidup, dll.) serta mencari jalan untuk mencegah/mengatasinya.

    Sumber : Pengantar Ilmu Ekonomi Bagian Makro

Uang dan Pembiayaan Pembangunan


BAB l
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Uang di artikan sebagai alat pembayaran (means paymaent) atau media/alat pertukaran (medium of exchange) namun menurut ahli ekonom yang mengatakan uang merupakan seperangkat asset dalam perekonomian yang digunakan oleh orang-orang secara rutin untuk membeli barang atau jasa dari orang-orang lain.
Selain fungsi uang sebagai alat transaksi pembayaran, uang secara tidak langsung bermanfaat sebagai pembiayaan dalam pembangunan. Pembangunan saat ini sudah jauh lebih berkembang lebih dari yang dulu hal tersebut menandakan bahwa arus penggunaan uang dalm kehidupan masyarakat semakin kuat untuk di gunakan.
Sedangkan arti dari pembangunan adalah suatu proses perubahan yang terus menerus menuju perbaikan di segala bidang kehidupan masyarakat dengan berdasarkan pada seperangkat nilai yang di anut, yang menuntun masyarakat untuk mencapai tingkat kehidupan yang didambakan. 
 
BAB II
ISI
2.1 DEFINISI UANG
Uang adalah alat sah pembayaran atau alat tukar. Menurut beberapa ahli uang memiliki pengertian yaitu :
R.J. Thomas mengatakan bahwa “money is something that is readily and generally accepted by public in payment for goods, services, and other valuable assets and for the payment for debts”. Artinya, uang adalah suatu benda yang dengan mudah dan umum diterima oleh masyarakat untuk pembelian barang dan jasa, barang berharga lainnya, dan pembayaran utang.
Sir Dennis Holme Robertson mengatakan bahwa “money is something accepted in payment for goods”. Artinya, uang adalah sesuatu yang bisa diterima dalam pembayaran untuk mendapatkan barang.
Dari definisi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa uang mempunyai ciri dapat diterima umum, dapat digunakan sebagai alat tukar, dan dapat digunakan sebagai alat pembayaran.
2.2 FUNGSI UANG
Sebagai alat untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan hidup, uang mempunyai beberapa fungsi. Fungsi-fungsi uang dapat digolongkan dalam fungsi asli fungsi turunan. Yang termasuk fungsi asli uang adalah sebagai alat tukar dan alat satuan hitung. Sedangkan fungsi turunan mencakup standar atau ukuran pembayaran yang ditunda, alat penyimpan kekayaan, dan alat pengalih kekayaan.
2.2.1 Alat Tukar
Fungsi uang sebagai alat tukar tidak diragukan lagi. Misalnya saja, seorang petani membutuhkan cangkul. Dia dapat menjual hasil panen untuk mendapatkan uang. Uang hasil penjualan panen tersebut digunakan untuk membeli cangkul. Jadi, uang berfungsi sebagai alat tukar.
2.2.2 Alat Satuan Hitung (Pengukur Nilai)
Sebagai satuan hitung, uang digunakan untuk menghitung harga sebuah barang. Nilai suatu barang dapat diukur dengan uang. Misalnya, harga pulpen Rp 2.500,00 dan buku tulis Rp. 10.000,00. Ini menunjukkan bahwa nilai buku tulis empat kali nilai pulpen.
2.2.3 Standar atau Ukuran Pembayaran yang Ditunda (Standard of Deferred Payment)
Dalam fungsi ini, uang digunakan untuk meyatakan utang. Uang dijadikan daya beli umum yang dapat dinyatakan dengan unit-unit yang pasti dan menurut pedoman atau ukuran. Misalnya adalah akan lebih masuk akal bila kita meminjam uang Rp. 5.000.000,00 selama 10 tahun daripada meminjam dua ekor sapi.
2.2.4 Alat Penyimpan Kekayaan
Manusia berusaha untuk tidak mengonsumsi semua pendapatannya. Sisa pendapatan yang tidak dikonsumsi, disimpan di rumah atau di bank untuk keperluan masa yang akan datang. Dengan kata lain, manusia menyimpan uang untuk kebutuhan masa mendatang atau mengantisipasi pengeluaran yang tidak terduga sebelumnya.
2.2.5 Alat Pengalih Nilai/Kekayaan
Uang dapat berfungsi untuk mengalihkan nilai. Misalnya, Ibu Linda oleh PT. XYZ dipromosikan untuk menduduki jabatan kepala cabang di Makassar. Sebelumnya, Ibu Linda telah memiliki rumah di Jakarta. Ibu Linda berhasrat memindahkan rumah miliknya tersebut ke Makassar. Dia menemukan jalan keluar, yaitu menjual rumah di Jakarta dan membeli rumah di Makassar. Menurutnya, tidak mungkin memindahkan fisik rumah dari Jakarta ke Makassar. Jadi, uang berfungsi sebagai alat pengalih nilai.
2.3 JENIS UANG
Uang dapat dibedakan atas dasar pihak yang mengeluarkan, bahan uang, negara yang mengeluarkan, dan nilai uang. Berikut ini uraiannya satu per satu.
2.3.1 Jenis Uang Berdasarkan Pihak yang Mengeluarkannya
Berdasarkan pihak yang mengeluarkannya, uang dibedakan menjadi uang kartal dan uang giral. Uang kartal adalah uang kertas atau uang logam yang beredar di masyarakat. Uang ini dikeluarkan dan diatur peredarannya oleh pemerintah serta merupakan alat pembayaran yang sah. Uang giral adalah alat pembayaran berupa cek, bilyet giro, dan sejenisnya. Uang giral dikeluarkan oleh bank dan digunakan sebagai alat pembayaran.
2.3.2 Jenis Uang Berdasarkan Bahan Uang
Berdasarkan bahan yang digunakan untuk membuat, uang dibedakan atas uang logam dan uang kertas. Uang logam adalah uang yang bahannya terbuat dari logam berupa emas, perak, atau logam lainnya yang beredar sebagai alat pembayaran. Sedangkan, uang kertas adalah uang yang bahannya terbuat dari kertas serta penggunaannya diatur oleh undang-undang dan kebiasaan. Uang tersebut beredar sebagai alat pembayaran.
2.3.3 Jenis Uang Berdasarkan Negara yang Mengeluarkan
Berdasarkan negara yang mengeluarkan, uang dibedakan atas uang dalam negeri (domestik/nasional) dan uang luar negeri. Uang dalam negeri adalah uang yang dikeluarkan oleh negara yang bersangkutan. Rupiah adalah uang yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia. Uang luar negeri adalah uang yang beredar dalam suatu negara, tetapi yang mengeluarkannya adalah negara lain. Di Indonesia banyak beredar uang negara lain, seperti Yen (Jepang), Dollar (USA), Ringgit (Malaysia), Peso (Filipina), Poundsterling (Inggris), dan Lira (Italia). Uang luar negeri disebut juga valuta asing.
2.3.4 Jenis Uang Berdasarkan Nilai Uang
Berdasarkan perbandingan nilai bahan dengan nilai tukar, uang dibedakan atas uang bernilai penuh dan uang tidak bernilai penuh. Uang nilai penuh (full bodied money) adalah uang yang nilai bahannya (nilai intrinsiknya) sama dengan nilai nominal atau nilai penuh yang terdapat pada standar emas. Jika uang emas itu mengandung emas, misalnya 5 gram, maka nilai uang itu dalam pertukaran juga seharga emas 5 gram.
Uang tidak bernilai penuh adalah uang yang nilai bahannya (nilai intrinsiknya) lebih kecil daripada nilai nominalnya. Umumnya uang yang tidak bernilai penuh adalah uang kertas. Misalnya, uang yang kita pegang berniali Rp. 10.000,00 mungkin nilai bahannya hanya Rp. 200,00.
2.4 SEJARAH UANG
Dewasa ini orang sudah biasa membeli aneka macam barang dengan uang kertas. Tetapi dulu tidaklah demikian. Uang mempunyai sejarah sudah berabad-abad lamanya, dan perkembangannya sampai kini pun mungkin belum selesai.
2.4.1 Barter
Pada zaman purba, ketika masyarakat masih sangat sederhana, orang belum biasa mempergunakan uang. Perdagangan dilakukan dengn cara langsung menukarkan barang dagang (=barter).
2.4.2 Uang barang
Karena barter (pertukaran langsung barang dengan barang) mengalami banyak kesulitan, dirasakan kebutuhan akan suatu barang perantara yang dapat mempermudah pertukaran. Dengan kemajuan perdagangan hampir dengan sendirinya timbul barang-barang yang disukai oleh setiap orang dan yang mau diterima oleh semua pihak, karena dengan mudah dapat ditukarkan lagi dengan barang yang lain yang dibutuhkan.
Bermacam-macam barang telah dipakai sebagai uang barang : kerang dan ternak, batu intan dan perhiasan, garam dan senjata, perkakas, teh, beras dan tembakau.... Masing-masing ada keuntungan dan kelemahannya. Misalnya, belum tentu mau diterima orang lain, kalau dibawa, disimpan atau dibagi-bagi.
2.4.3 Logam mulia
Tukar menukar dengan bantuan barang perantara masih jauh dari memuaskan, karena itu orang mencari barang yang lebih prakis sebagai alat pembayaran. Akhirnya logam mulia (khususnya emas dan perak) paling banyak dipakai, karena logam ini memenuhi semua syarat-syarat uang : diterima umum, tahan lama, mudah dibawa, jumlahnya terbatas sehingga tetap berharga. Syarat inilah yang barus dipenuhi agar ”uang” dapat berfungsi sebagai alat tukar-menukar yang efisien.
2.4.4 Mata uang
Semula potong-potongan logam mulia setiap kali harus ditimbang dan ditentukan kadarnya untuk menentukan nilainya. Karena hal ini merepotkan, lambat laun para raja/penguasa setempat mulai menempa mata uang. Potongan-potongan logam mulia diberi bentuk tertentu seperti diberi gambar (raja 'the sovereign') atau cap resmi sebagai jaminan berat dan kadarnya, kemudian juga diberi angka yang menyatakan nilainya.
2.4.5 Uang kertas bank
Penyelesaian transaksi-transaksi besar dengan mata uang logam mulia juga mengalami beberapa kesuitan, akhirnya untuk menghindari hal tersebut yang dapat dilakukan yaitu para pedagang besar menitipkan sejumlah uang (emas) kepada seorang walikotanya di kot lain. Untuk selanjutnya pembayaran dapat dilakukan dengan perantara surat. Dengan demikian mata uang emas lama-kelamaan diganti dengan uang kertas bank, sedangkan bahan emas tetap tersimpan di bank.
2.4.6 Uang giral
Bila seseorang atau suatu perusahaan menitipkan uang kepada sebuah bank, pembayaran dengan uang itu dikatakan orang/perusahaan tersebut membuka Rekening koran (koran=courant=berjalan) pada bank tersebut. Dengan demikian bentuk uangnya berubah, dari lembaran-lembaran uang kertas menjadi uang giral, berupa catatan dalam buku-buku bank.
2.5 PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
Kegiatan pembangunan yang dicerminkan dalam rencana investasi disegala sektor memerlukan biaya dalam jumlah yang besar. Sumber dana pembangunan tersebut sudah sepastinya berasal dari sumber dalam negeri, sedangkan sumber dari luar negeri hanya sebagai pelengkap saja.
Sumber dana untuk pembiayaan kegiatan investasi berasal dari :
  1. Dalam negeri, (sebesar kurang lebih 22% dari PDB) dalam bentuk, Tabungan Pemerintah dan Tabungan masyarakat.
  2. Luar negeri, (sebesar kurang lebih 4% dari PDB) dalam bentuk, Hasil netto Ekspor – Impor (Neraca Pembayaran), Penanaman Modal Asing, Pinjaman Luar Negeri, Bantuan Luar Negeri.
2.5.1 Tabungan Pemerintah
Tabungan Pemerintah adalah selisih antara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin. Lama sekali sebagian besar penerimaan dalam negeri berasal dari Pajak Perseroan Minyak (sekitar 70%). Tetapi sejak tahun 1982-1983 sumber ini sangat berkurang, sehingga perlu dicari gantinya dari dalam negeri.
Tabungan pemerintah dapat diperbesar dengan jalan :
  • meningkatkan penerimaan dari pajak, yang diharapkan dari sistem perpajakan baru khususnya dari sektor-sektor di luar minyak dan gas alam, untuk mengurangi ketergantungan dari minyak saja.
  • Menghemat pengeluaran rutin, terutama dengan meningkatkan efisiensi kerja seluruh aparat pemerintahan, serta pengurangan subsidi pangan dan BBM.
2.5.2 Tabungan masyarakat
Tabungan masyarakat berasal dari perusahaan swasta dan rumah tangga, dan berbentuk Deposito Berjangka, Tabanas/Taska, Sertifikat Deposito serta pembelian surat obligasi dan saham. Pembaharuan dalam sistem perbankan (sejak tanggal 1 Juni 1983) telah mendorong bank-bank pemerintah dan swasta untuk lebih giat dalam mengerahkan/menghimpun dana dari masyarakat dan meningkatkan kebiasaan masyarakat menabung di bank.
2.5.3 Devisa hasil kelebihan Ekspor dan Impor
Di samping dana dalam bentuk rupiah, usaha pembangunan juga memerlukan dana dalam bentuk devisa (uang luar negeri seperti $ USA dan Yen). Oleh karena itu dalam Repelita IV-V dicantumkan usaha-usaha untuk menggalakkan ekspor kita, terutama yang di luar sektor minyak dan gas alam, seperti kayu lapis, karet, kopi, pakaian jadi, dll. Termasuk juga pengembangan pariwisata sebagai sumber devisa. Sedang impor dititikberatkan pada bahan-bahan baku dan barang modal yang perlu untuk industri kita. Perlu dierhatikan bahwa kalau Impor lebih besar daripada Ekspor (Neraca Pembayaran defisit-sering kali terjadi), maka sumber dana ini menjadi negatif dan harus diisi dengan pinjaman atau kredit.
2.5.4 Penanaman Modal Asing (PMA)
PMA terutama berasal dari sektor swasta, dan diarahkan pada produk-produk yang berteknologi tinggi (padat modal) serta produk-produk untuk ekspor. Sejak berlaunya Undang-undang Penanaman Modal Asing tahun 1967 proyek PMA yang telah disetujui oleh pemerintah disalurkan terutama ke sektor pertambangan (26%), industri kimia (13%), industri tekstil (12%), industri barang logam (10%), dan lain-lain.


2.5.5 Pinjaman luar negeri
Sebagian dari bantuan luar negeri untuk Indonesia disalurkan dalam bentuk pinjaman dengan bunga yang rendah dan syarat-syarat lunak. Masalah pokok dengan pinjaman ialah bahwa pada suatu waktu akan harus dikembalikan/dilunasi dari hasil ekspor kita, selain beban bunga yang bagaimanapun tetap harus dibayar.
2.5.6 Bantuan luar negeri
Bantuan luar negeri biasanya dibedakan bantuan program dan bantuan proyek, dan setiap tahun dicantumkan dalam APBN. Lembaga-lembaga internasional yang berperan dalam hal ini selain IGGI terutama Bank Dunia, International Finance Corporation (IFC), International Development Agency (IDA), Bank Pembangunan Asia (ABD), serta Lembaga-lembaga PBB seperti Unicef, FAO, WHO dan ILO. Bila sumber dalam negeri (tabungan pemerintah) dibandingkan dengan dana bantuan luar negeri (lihat Tabel XII.3), ternyata bahwa ketergantungan kita dari bantuan luar negeri masih besar sekali, sekitar 40% dari Anggaran Pembangunan setiap tahun atau sekitar 4-5% dari GNP.
TABELXII.3
TABUNGAN PEMERINTAH DAN DANA BANTUAN LUAR NEGERI
(Repelita III-IV dalam milyar rupiah)
Tahun
Tabungan Pemerintah
Dana bantuan LN
Jumlah
1979/80
2.635,0
1.381,0
4.0160.0
1980/81
4.427,0
1.493,8
5.920,8
1981/82
5.235,0
1.709,0
6.944,0
1982/83
5.422,0
1.940,0
7.362,0
1983/84
6.020,9
3.882,4
9.903,3
1984/85
6.476,6
3.478,0
9.954,6
1985/86
7.301,3
3.572,6
10.873,9
1986/87
2.581,3
5.752,2
8.333,5
1987/88
3.321,8
6.158,0
9.479,8
1988/89
1.737,0
7.160,6
8.897,6


Sumber : Repelita V


BAB III
KESIMPULAN
Jadi, uang bukan hanya berfungsi sebagai alat tukar saja tetapi bermacam-macam fungsi uang seperti yang sudah dijelaskan, dan uang juga memiliki bermacam-macam jenis berdasarkan pihak yang mengeluarkannya. Uang juga memiliki sejarah yang sudah berabad-abad lamanya. Dapat diketahui pula bahwa pembiayaan pembangunan sampai sekarang pun ternyata masih memiliki ketergantungan yang amat besar dari bantuan luar negeri.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Alam S., MM. 2007. Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas XI. Jakarta: ESIS.
Drs. T. Gilarso. 1992. Pengantar Ilmu Ekonomi Bagian Makro. Yogyakarta: Kanisius

Kamis, 31 Maret 2011

Pengangguran

     Penganggur adalah orang yang tidak mempunyai pekerjaan, sedang mencari pekerjaan, atau sedang mempersiapkan suatu usaha baru. Sedangkan tingkat pengangguran adalah perbandingan antara jumlah penganggur dan jumlah angkatan kerja dalam kurun waktu tertentu yang dinyatakan dalam bentuk persentase.
     Jika peningkatan jumlah angkatan kerja di suatu negara tidak diimbangi dengan peningkatan daya serap lapangan kerja, maka tingkat penganguran di negara tersebut tinggi, begitu juga sebaliknya.
     Pengangguran dapat dikelompokkan menurut faktor penyebab terjadinya dan menurut lama waktu kerjanya, yaitu ;

a. jenis pengangguran menurut faktor penyebab terjadinya
     Berdasarkan faktor penyebab terjadinya, pengangguran dapat dibagi menjadi pengangguran konjungtur (siklis), struktural, friksional, dan musiman.

(1) Pengangguran konjungtur/siklis (cyclical unemployment)
     adalah pengangguran yang berkaitan dengan turunnya kegiatan
     perekonomian suatu negara. Pada masa resesi, tingkat pengangguran siklis
     akan semakin meningkat karena dua faktor berikut.
     (a) Jumlah orang yang kehilangan pekerjaan terus meningkat
     (b) Dibutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk mendapatkan
          pekerjaan.


(2) Pengangguran struktural adalah pengangguran yang terjadi karena
     perubahan struktur atau perubahan komposisi perekonomian. Perubahan
     struktur tersebut memerlukan keterampilan baru agar dapat menyesuaikan
     diri dengan keadaan baru. Sebagai contoh, adanya peralihan perekonomian
     dari sektor pertanian ke sektor industri.


(3) Pengangguran friksional adalah pengangguran yang terjadi karena kesulitan
     temporer dalam mempertemukan pemberi kerja dan tenaga kerja.
     Kesulitan-kesulitan temporer ini antara lain adalah waktu yang diperlukan
     dalam proses pelamaran dan seleksi oleh pemberi kerja. 


(4) Pengangguran musiman adalah pengangguran yang terjadi karena
     pergantian musim. Contohnya, di sektor pertanian, umumnya setelah
     habis panen sampai musim tanam, petani tidak ada pekerjaan. Dalam
     keadaan ini, petani tersebut adalah penganggur musiman.


b. Jenis pengangguran menurut lama waktu kerja
     Berdasarkan lama waktu kerja, pengangguran dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu pengangguran terbuka, setengah menganggur, dan pengangguran terselubung.


(1) Pengangguran terbuka (open unemployment) adalah situasi dimana orang
     sama sekali tidak bekerja dan berusaha mencari pekerjaan. Pengangguran
     terbuka bisa disebabkan karena lapangan kerja yang tidak tersedia,
     ketidakcocokan antara kesempatan kerja dan latar belakang pendidikan,
     dan tidak mau bekerja.


(2) Setengah menganggur (underemployment) adalah situasi di mana orang
     bekerja, tapi tenaganya kurang termanfaatkan diukur dari curahan jam
     kerja, produktifitas kerja, dan penghasilan yang diperoleh. Misalnya,
     orang yang bekerja sebagai tenaga kerja lepas (freelance) di mana dia
     tidak ada kepastian mengerjakan pekerjaan pada waktu tertentu.


(3) Pengangguran terselubung (disguised unemployment) terjadi karena
     tenaga kerja tidak bekerja secara optimal. Kondisi ini disebabkan
     adanya ketidaksesuaian antara pekerjaan dengan bakat dan
     kemampuannya. Misalnya, seorang lulusan D-3 keperawatan bekerja
     sebagai sekretaris sebuah perusahan. Dia tidak bisa menjalankan fungsi
     kesekretariatan dengan baik, sehingga menghambat proses kerja
     yang ada.

     Pengangguran berdampak besar terhadap pembangunan nasional. Dampak pengangguran terhadap pembangunan nasional dapat dilihat melalui hubungan antara pengangguran dan indikator-indikator berikut ini.

1. Pendapatan Nasional dan Pendapatan per Kapita
    Upah merupakan salah satu komponen dalam perhitungan pendapatan nasional. Apabila tingkat pengangguran semakin tinggi, maka nilai komponen upah akan semakin kecil. Dengan demikian, nilai pendapatan nasional pun akan semakin kecil.
    Pendapatan per kapita adalah pendapatan nasional dibagi jumlah penduduk. Oleh karena itu, nilai pendapatan nasional yang semakin kecil akibat pengangguran akan menurunkan nilai pendapatan per kapita.


2. Penerimaan Negara
    Salah satu sumber penerimaan negara adalah pajak, khususnya pajak penghasilan. Pajak penghasilan diwajibkan bagi orang-orang yang memiliki pekerjaan. Apabila tingkat pengangguran meningkat, maka jumlah orang yang membayar pajak penghasilan berkurang. Akibatnya penerimaan negara pun berkurang.

3. Beban Psikologis
    Semakin lama seseorang menganggur, semakin besar beban psikologis yang harus ditanggung. Secara psikologis, orang yang menganggur mempunyai perasaan tertekan, sehingga berpengaruh terhadap berbagai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dampak psikologis ini mempunyai efek domino di mana secara sosial, orang menganggur akan merasa minder karena status sosial yang tidak atau belum jelas.

4. Biaya
    Dengan semakin besarnya jumlah penganggur, semakin besar pula biaya sosial yang harus dikeluarkan. Biaya sosial itu mencakup biaya atas peningkatan tugas-tugas medis, biaya keamanan, dan biaya proses peradilan sebagai akibat meningkatnya tindak kejahatan.

Untuk mengatasi beberapa dampak tersebut, perlu adanya terpadu dalam bidang kesempatan kerja.


1. Cara Mengatasi Pengangguran Siklis
    Untuk mengatasi pengangguran siklis diperlukan beberapa langkah-langkah antara lain peningkatan daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat dapat meningkat apabila mereka mendapat tambahan penghasilan. Pemerintah harus membuka proyek yang bersifat umum, seperti, membangun jalan, jembatan, irigasi, dan kegiatan lainnya. Cara lain adalah dengan mengarahkan pemirntaan masyarakat untuk membeli barang dan jasa, serta memperluas pasar barang dan jasa. Misalnya, membuka pasar baru di luar negeri yang dapat menambah permintaan.

2. Cara Mengatasi Pengangguran Struktural
    Untuk mengatasi pengangguran struktural diperlukan berbagai langkah seperti pengadaan pendidikan dan pelatihan sebagai persiapan untuk berkarier pada pekerjaan yang baru, memindahkan tenaga kerja dari tempat yang tidak membutuhkan ke tempat yang membutuhkan, meningkatkan mobilitas tenaga kerja dan modal yang ada, dan mendirikan industri yang bersifat padat karya, sehingga mampu menampung tenaga kerja yang menganggur.

3. Cara Mengatasi Pengangguran Friksional
    Pada dasarnya pengangguran friksional tidak dapat dihilangkan sama sekali dan hanya dapat dikurangi. Cara mengatasi pengangguran ini adalah mengusahakan informasi yang lengkap tentang permintaan dan penawaran tenaga kerja, sehingga proses pelamaran, seleksi, dan pengambilan keputusan menerima atau tidak berlangsung lebih cepat. Cara lain adalah menyusun rencana penggunaan tenaga kerja sebaik mungkin.

4. Cara Mengatasi Pengangguran Musiman
    Pengangguran seperti ini dapat diatasi dengan pemberian informasi yang jelas tentang adanya lowongan kerja pada bidang lain dan melatih seseorang agar memiliki keterampilan untuk dapat bekerja pada "masa menunggu" musim tertentu. 

Rabu, 30 Maret 2011

Kebijakan Perdagangan Internasional

     Kebijakan adalah suatu kecermatan, ketelitian, dan langkah yang di ambil untuk mengatasi suatu masalah. Kebijakan diambil berdasarkan fakta-fakta dan pengalaman masa lalu. Berdasarkan pengertian kebijakan tersebut, kebijakan perdagangan internasional adalah rangkaian tindakan yang akan diambil untuk mengatasi kesulitan atau masalah hubungan perdagangan internasional guna melindungi kepentingan nasional.

     Jenis-jenis kebijakan dapat diberlakukan untuk impor dan ekspor yaitu ;

a. Kebijakan perdagangan internasional di bidang impor
         Ada beberapa keburukan mengimpor suatu barang. Salah satunya adalah perusahaan dalam negeri yang memproduksi jenis barang yang sama akan gulung tikar karena kalah bersaing dengan barang impor. Untuk itulah, pemerintah harus melindungi atau bertindak untuk mengatasi keburukan itu dengan jalan memberi perlindungan (proteksi). Perlindungan itu banyak jenisnya, yaitu :
(1) Kuota merupakan jumlah yang ditetapkan untuk suatu kegiatan dalam satu
     masa atau suatu waktu tertentu. Jadi, kuota dalam impor adalah total
     jumlah barang yang dapat diimpor dalam masa tertentu. Ketika
     diberlakukan perdagangan bebas, kuota tidak dapat dipakai lagi karena
     dapat menghambat perdagangan internasional.
(2) Tarif. Kebijakan tarif diambil pemerintah dengan menetapkan tarif tinggi
     untuk mengimpor suatu jenis barang. Dengan pengenaan tarif ini, harga
     barang impor menjadi mahal, sehingga barang sejenis yang diproduksi
     di dalam negeri akan memiliki daya saing dan dibeli konsumen. Penganut
     perdagangan bebas mengenakan tarif yang rendah atas barang-barang
     impor. Sebaliknya, begara proteksionis mengenakan tarif yang tinggi untuk
     barang impor.
(3) Subsidi. Karena ada perbedaan harga antara barang impor dan barang
     dalam negeri, ada kemungkinan harga brang impor lebih murah daripada
     harga barang produksi dalam negeri. Supaya harga barang produksi dalam
     negeri dapat ditekan, pemerintah dapat memberi subsidi pada produsen
     dalam negeri. Dengan pemberian subsidi ini, harga barang dalam negeri
     menjadi murah.
(4) Larangan impor. Dengan berbagai alasan, ada barang tertentu yang
     dilarang diimpor. Misalnya, barang-barang yang berbahaya untuk
     masyarakat. Larangan impor bisa jadi dilakukan untuk membalas tindakan
     negara lain yang telah lebih dulu melarang impor barang suatu negara.
     Selain itu, larangan impor dapat pula dilakukan untuk menghemat devisa.

b. Kebijakan perdagangan internasional di bidang ekspor
       Sama halnya dengan kebijakan perdagangan internasional di bidang impor, kebijakan di bidang ekspor juga ditujukan untuk melindungi produksi dalam negeri disamping memperoleh keuntungan. Beberapa kebijakan perdagangan internasional di bidang ekspor, yaitu :
(1) Diskriminasi harga, adalah suatu tindakan dalam penetapan harga barang
     yang berbeda untuk suatu negara dengan negara lainnya. Untuk barang
     yang sama, harga untuk negara yang satu lebih mahal atau lebih murah
     daripada negara lainnya. Hal ini dilakukan atas dasar perjanjian atau dalam
     rangka perang aktif.
(2) Pemberian premi (subsidi). Kebijakan pemerintah untuk memajukan ekspor
     adalah dengan memberi premi kepada badan usaha yang melakukan
     ekspor. Pemberian premi (subsidi) itu antara lain berupa bantuan biaya
     produksi serta pembebasan pajak dan fasilitas lain, dengan tujuan agar
     barang ekspor memiliki daya saing di luar negeri.
(3) Dumping adalah kebijakan yang diambil oleh pemerintah dengan
     menetapkan barang ekspor (harga baranag diluar negeri) lebih murah
     daripada harga didalam negeri. Cara ini hanya dapt dilakukan bila pasar
     dalam negeri dikendalikan atau dikontrol oleh pemerintah.
(4) Politik dagang bebas merupakan suatu kebijakan dimana masing-masing
     pemerintah memberi kebebasan daam ekspor dan impor.
(5) Larangan ekspor merupakan kebijakan atas suatu negara untuk melarang
     ekspor barang barang-barang tertentu ke luar negeri. Penyebabnya bisa
     karena alasan ekonomi, politik, sosial dan budaya.